Inilah Profil Dr. Syafik Riza Basalamah, Peraih Predikat Cum Laude S1-S3 di Madinah yang Rendah Hati



Nama Ustaz Dr. Syafiq Riza Hasan Basalamah, Lc, M.A, tentu sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta kajian Islam di tanah air. Di balik penampilannya yang sederhana dan tutur katanya yang tenang, tersimpan rekam jejak akademik yang sangat mencengangkan. 

Beliau bukan sekadar penceramah, melainkan seorang pakar ilmu agama yang diakui oleh dunia internasional.

Pria kelahiran Jember, 15 Desember 1977 ini merupakan bukti nyata bahwa ketekunan dalam menuntut ilmu akan membuahkan hasil yang mulia.

Kejeniusan Akademik: "Hat-trick" Cum Laude di Madinah

Banyak dai yang menempuh pendidikan di Timur Tengah, namun sangat sedikit yang mampu menyamai prestasi Ustadz Syafiq. Selama belasan tahun menetap di kota Suci Madinah, ia berhasil menaklukkan jenjang pendidikan di Universitas Islam Madinah dengan hasil yang sempurna.

Tidak main-main, predikat Summa Cum Laude (Mumtaz Mabadi'asy-Syaraf) berhasil ia raih secara berturut-turut mulai dari gelar Sarjana (S1), Magister (S2), hingga Doktoral (S3).

Gelar Doktornya ia raih pada tahun 2013 setelah berhasil mempertahankan disertasi mengenai peran lembaga Islam di Indonesia di hadapan para profesor besar di Arab Saudi.

Akar Sejarah: Keturunan Yaman yang Berbakti di Nusantara

Meski menyandang marga Basalamah yang berasal dari Hadramaut, Yaman, Ustaz Syafiq memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan tanah air. Kakek buyutnya, Salim bin Zaid Basalamah, hijrah ke Hindia Belanda sebelum tahun 1900-an dan menetap di Padang, Sumatera Barat.

Kakeknya bahkan menikahi wanita Minangkabau, sehingga dalam darah Ustaz Syafiq mengalir perpaduan ketegasan Arab dan kelembutan Nusantara. Latar belakang sejarah ini membentuk pribadinya yang sangat mencintai Indonesia dan selalu menekankan pentingnya adab dalam berdakwah di tanah air.

Dosen yang Tetap Membumi

Meski menyandang gelar Doktor, Ustaz Syafiq tetap memilih jalan pengabdian di jalur pendidikan. Ia aktif sebagai dosen tetap di STDI Umam Syafi'i Jember. Di sana, ia mengajar mata kuliah seperti Sirah Nabawiyah dan Akhlak Islamiyah, menstransfer ilmu yang ia dapat di Madinah kepada para mahasiswanya.

Gaya ceramahnya di media sosial pun mencerminkan kerendahan hatinya. Ia jarang menggunakan nada tinggi atau kata-kata yang memojokkan. Sebaliknya, ia sering memberikan solusi kehidupan berdasarkan dalil Al-Qur'an dan Sunnah dengan pendekatan yang sangat logis dan santun.

Menepis Stigma dengan Kedalaman Ilmu

Meski perjalanan dakwahnya sempat diwarnai dinamika dan beberapa kali mengalami pembatalan kajian, Ustaz Syafiq tetap menunjukkan sikap ksatria. Ia selalu mengajak jemaahnya untuk tetap mendoakan pemimpin, menjauhi celaan terhadap pemerintah, dan mengedepankan persatuan umat.

Bagi Ustaz Syafiq , dakwah adalah tentang menyampaikan kebenaran dengan cara yang paling baik. Ia membuktikan bahwa gelar akademik yang tinggi bukanlah untuk kesombongan, melainkan amanah untuk membimbing umat menuju pemahaman agama yang lebih mendalam. (Wikipedia)